Menurut Yahoo News, industri keuangan terus mengembangkan cara-cara untuk membuat pembelanjaan uang menjadi lebih mudah, dengan kecerdasan buatan (AI) yang mendorong sistem pembayaran digital generasi berikutnya. Namun, meskipun banyak konsumen yang mengadopsi AI sebagai sumber daya keuangan, sebagian besar masih belum mempercayai teknologi ini untuk membelanjakan uang.
Survei Empower baru-baru ini terhadap 999 orang dewasa di Amerika mengungkapkan bahwa mayoritas mempercayai AI untuk membantu perencanaan keuangan, dengan hampir dua pertiga (65%) menyatakan bahwa mereka akan menggunakan teknologi tersebut untuk memberikan saldo akun atau pembaruan kinerja. Area lain di mana lebih dari separuh responden akan menggunakan AI secara finansial termasuk menyarankan cara-cara untuk meningkatkan tabungan (60%), membantu mengelola atau menaati anggaran (58%), dan membuat anggaran (57%). Namun, hanya 41% orang Amerika yang terbuka terhadap gagasan AI untuk membayar tagihan mereka, menurut survei tersebut. Kurang dari satu dari lima orang (17%) mempercayai AI untuk melakukan investasi, sementara kurang dari 10% yang meminta AI untuk membantu mereka dalam masalah keuangan.
AI dapat bermanfaat dalam pemrosesan pembayaran untuk pedagang dan vendor, karena dapat membantu merampingkan operasi, meminimalkan kesalahan, dan meningkatkan efisiensi. AI juga efektif dalam mengurangi penolakan palsu, yang terjadi ketika pembelian online yang sah menggunakan kartu kredit yang valid ditolak ketika seharusnya disetujui. Namun, ada risiko yang terkait dengan AI, terutama dalam hal penipuan. AI dapat digunakan untuk membuat email spam dan situs web palsu dalam skala yang lebih besar, sehingga meningkatkan risiko penipuan bagi mereka yang menggunakan AI untuk melakukan pembayaran. Selain itu, AI memudahkan penipu untuk meniru pola bicara dan bahasa, sehingga meningkatkan kemungkinan konsumen mengirimkan uang kepada orang yang salah.